Ta’dim terhadap Ilmu

 

Ilmu merupakan satu kata yang sangat sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat berharga ketika sudah memilikinya. Untuk mencapainya diperlukan proses yang tidak mudah dan diperlukan suatu keistiqomahan yang bersifat terus menerus. Menuntut ilmu tidak hanya membutuhkan otak yang pintar maupun cerdas, namun harus didahului dengan niat serta diikuti hati yang ikhlas.

Seperti dalam hadits Arba’iin An-nawawi yang pertama. Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguuhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya.

Dan siapa yang hijrahnya karena dunia, yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. (Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaaburi di dalam dua kitab Shahih, yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang).

Adapun salah satu proses yang harus kita lakukan pada saat menuntut ilmu yaitu ta’dzim atau hormat terhadap ilmu, perantara ilmu bahkan pemilik ilmu. Siapakah perantara ilmu itu? Perantara ilmu yaitu mereka yang memiliki ilmu pengetahuan yang sangat luas, seperti para ‘alim ulama’, para ustadz-ustadzah (asatiidz), para guru, dan lain sebagainya. Lalu siapakah pemilik ilmu? Pemilik ilmu tentu saja Allah subhanahua ta’ala. Seperti dalam surah Al-‘alaq ayat 1-5. Didalam kitab Ta’lim Muta’allim disebutkan bahwa termasuk Etika yang mencerminkan ta’dzim terhadap prerantara ilmu (guru/asatidz) yaitu melakukan hal-hal yang membuatnya rela, menjauhkan amarahnya, dan menjunjung tinggi perintahnya yang tidak bertentangan dengan agama serta menghormati putera dan semua orang yang bersangkut paut denganya. Dan juga disebutkan dalam kitab Ta’lim Muta’allim bahwa Syaikh Syamsul Aimmah Al-Khulwaniy Rahmatullahu Ta’ala berkata : hanya saya dapati ilmu-ilmuku ini dengan mengagungkannya. Sungguh saya mengambil kertas belajarku selalu dalam keadaan suci (setelah berwudhu).

Dengan demikian, sebagai penuntut ilmu kita seharusnya mengetahui adab berilmu atau Ta’dzim terhadap ilmu, perantaranya, dan juga pemilik ilmu. Tidak hanya mengetahui tetapi Adakalanya kita juga mengamalkannya. Karena bagaimanapun juga kesuksesan tidak dapat kita tentukan. Kesuksesan tidak hanya bergantug pada kecerdasan dan kepintaran, tetapi juga bergantung pada keberkahan yang kita dapatka dari ilmu tersebut. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang didapatkan melalui keridhoan guru dan bagaimana kita menghormati ilmu tersebut.

#JIMMengabdi
#MyFriendMyFamily

Iklan