Bijak itu Kedtche

Oleh : Ilham Alif Furqon

Banyaknya permasalahan kontemporer yang tidak dijumpai oleh orang orang salaf (terdahulu), telah menyebabkan banyaknya perselisihan pendapat

Begitu juga pada aktivitas seorang aktivis dakwah yang penuh dengan hal hal yg sifatnya anti mainstream hehe, karena banyak yang bakalan mengkritisi segala laku lakunya. Misalnya mengkritisi kebijakan dalam cara men-syiarkan, atau juga dalam proses pembinaan kader

Penyikapan terhadap perselisihan pandangan hendaknya bisa disikapi dengan cara cara yang ahsan, karena, cara menyikapi itu adalah sebuah cerminan “kebijaksanaan” dari individu. Meski ada yang menolak dengan cacian, ada yang memilih diam, pun ada yang mengikuti dan menjadikan teladan

Itu biasa..

Namun lagi lagi bagi seorang aktivis dakwah adalah suatu keharusan untuk berpikiran terbuka terhadap banyaknya kritik yang menghujam entah dari dalam maupun dari luar, begitu juga dengan pujian yang banyak membuat lalai

Alkisah ada orang yg menghadap kepada Al-Maghfurlah KH. Bisri Syansyuri Denanyar. Kepada Mbah Bisri ia mengadu bahwasannya ia ingin sekali berqurban dengan kakak adiknya yang berjumlah 8 orang dengan seekor sapi. Namun, bukankah sapi hanya boleh untuk 7 orang saja?

“Satu sapi itu menurut fikihnya hanya untuk bertujuh.” Ujar mbah Bisri.

“Jadi meski adik saya yang paling kecil itu, masih agak kecil, apa ndak boleh berdelapan mbah?”

Mbah bisri yang terkenal amat teguh memegangi dalil itu menggeleng lemah.

“Meski sapinya gemuk?” Tambah seorang tersebut

Dengan senyum prihatin, mbah Bisri tetap menggeleng.

“Padahal kami ingin seperti wasiat almarhum bapak dan ibu selalu kompak dunia akhirat. Termasuk soal qurban, inginnya besok berdelapan masuk  surga dengan mengendarai sapi yang sama,” agak basah mata lelaki berusia empat puluhan itu

Pemahaman seorang lelaki yang bertanya ialah tak aib untuk dihormati.

Kemudian orang tersebut menghadap Almaghfurlah KH. A. Wahab Chasbullah.

“O tentu saja boleh,” jawab mbah Wahab yang kemudian membuat pria itu terenyak

“Wah boleh mbah qurban sapi buat berdelapan?”

“Lha yo boleh. Tapi..”

“Tapi gimana mbah?”

“Adikmu yang paling kecil dan masih kecil itu kan agak kecil ya?”

“Iya mbah”

“Lha nanti kalau mau naik sapi kan agak susah ya? Ngrekel ngrekelnya itu lho..”

“Lha terus gimana mbah?”

“Mbok kamu tambahi kambing satu ekor biar bisa buat ancik anciknya, buat pijakan naik ke sapinya.”

“Wah siap mbah kalau begitu.”

Bukankah hakikatnya sebenarnya sama? Masalah terselesaikan, dan tak ada hati yang kecewa. Maka ketika berita ini sampai kepada mbah Bisri, beliau tersenyum dan menggumamkan surat yusuf ayat ke -76 ;

“wa fauqa kulli dzii ‘ilmin ‘aliim..”

“Dan di atas tiap pemilik pengetahuan, ada jauh yang lebih berpengetahuan”

So.. buat kita yang bisa dibilang seperti butiran rinso bila dibanding kedua kyai sepuh nan alim di atas, mbah Bisri, dan mbah Wahab. Alangkah lebih baik bilamana kita tidak asal bicara jika hanya untuk mendebat dan mencari kesalahan.

Mari jadi elegan dengan banyak mendengar 😎

Referensi :

http://www.salimafillah.com

Advertisements