[NEWS] Pesantren Masa Libur

[NEWS] 29 April s.d 1 Mei 2017

164559
Tepat seminggu yang lalu, Jamaah Intelektual Mahasiswa Muslim (JIMM) FST UNAIR berkunjung ke pondok pesantren Darul Ulum Jombang, tepatnya yakni di Asrama XIV Hidayatul Qur’an. Dalam rangka acara PML (Pesantren Masa Libur) yakni program tahunan yang bertujuan mengenalkan lingkungan ponpes kepada mahasiswa FST. Adapun PML ini sendiri merupakan salah satu proker department Syiar JIMM Mengabdi 2017 yang terbuka untuk seluruh warga muslim FST.

Adapun peserta yang bisa mengikuti acara PML ini ialah seluruh warga aktif FST. Acara ini mendapat sambutan baik dari seluruh mahasiswa, apalagi PML tahun ini merupakan kali pertama yang diadakan di pondok pesantren. Dari pihak peserta sendiri antusias untuk mendaftar acara ini, bahkan berdasarkan data yang diperoleh dari sie KSK, ada beberapa anak diluar warga FST yang sangat ingin mengikuti acara ini. Namun, dari pihak panitia sendiri lebih mengutamakan warga muslim FST. Hal ini tentu menjadi suatu pertimbangan bagi kami, khususnya pihak panitia untuk mengadakan PML yang terbuka untuk seluruh warga UNAIR, bukan hanya FST saja. Namun, hal itu juga tetap kami pertimbangkan mengingat ada kelebihan dan kekurangannya.

Bukan hanya kunjungan biasa, namun para mahasiswa juga mengkaji kitab-kitab sesuai kurikulum ponpes tersebut. Semua kegiatan ataupun regulasi yang berlaku di ponpes harus dipatuhi oleh para mahasiswa. Hal yang dititikberatkan di sini kajian terhadap kitab ta’lim muta’allim yakni adab kita sebagai penuntut ilmu kepada guru. Sering kali kita bertanya dan ingin tahu cara belajar yang benar dari orang cerdas dan sebagainya. Padahal, semua sudah tertulis dalam kitab tersebut. Diantaranya adalah belajar di antara waktu maghrib dan isya’, belajar menjelang waktu subuh yaitu diwaktu sahur, jangan terlalu banyak makan, dan lain sebagainya.

Pada dasarnya semua orang memiliki potensi untuk menjadi pintar, asal niat dan tekadnya kuat untuk berusaha. Mengapa demikian? Pintar merupakan sebuah sifat yang bukan bawaan, melainkan perolehan dari proses belajar dalam jangka waktu tertentu.

Bukan hanya mengenai kitab ta’lim muta’allim, disana kita juga mengikuti pengajian tafsir Al-Qur’an. Banyak ilmu baru yang menurut saya sendiri sebagai penulis ilmu tersebut sangatlah menarik untuk kita kaji. Seperti dalam Al-Qur’an sendiri terdapat beberapa kata yang merupakan polisemi, yaitu satu kata tapi memiliki banyak arti, semisal makna kata “dzikir”  dalam Al-Qur’an  diantaranya mengingat, sholat, dan Al-Qur’an. Diluar pemikirin kita bukan? Bahwa kata dzikir bisa bermakna Al-Qur’an? Adapun kata dzikir yang bermakna Al-Qur’an terdapat dalam surah Fusshilat.
Hal tersebut mendukung pendapat para ulama yaitu Al-Qur’an bisa di pandang dari banyak sisi. Dimaknai dari sisi ini bisa, sisi lain bisa. Hal ini tentu menunjukkan salah satu keindahan bahasa Al-Qur’an.

Ilmu lain yang tak kalah menarik ialah masih mengenai Al-Qur’an itu sendiri bahwa kata dalam Al-Qur’an juga banyak yang memiliki makna yang berlawanan. Salah satunya ialah الجون. Kata tersebut bermakna putih, namun ada juga di ayat berbeda yang mengartikan الجون=hitam. Hitam dan putih? Kata tersebut merupakan dua kata yang berlawanan bukan? Kata kata sedemikian terdapat 100+ dalam Al-Qur’an. Ini juga merupakan salah satu keunikan Al-Qur’an.
Dari sedikit ilmu tersebut dapat kita ketahui bahwa Al-Qur’an mengandung banyak kata yang penafsirannya berselisihkan. Lantas, bagaimana kita menyikapi hal tersebut? Kita juga sebagai para pencari ilmu hendaknya selalu memperluas ilmu yang kita dapat, bukan malah menyalahkan pendapat orang lain yang tidak sesuai dengan kita.

Dalam penjelasan tersebut, maka Kyai H. M. Afifuddin Dimyathi juga berdawuh : “kalau kita punya pengalaman, hal yang munkar bisa menjadi tidak munkar.”
Dawuh dari beliau tersebut juga diperkuat dari pesan Sayyid Muhammad ‘Alawy, yaitu : “orang yang luas wawasannya, ia jarang mengingkari manusia.”  Jadi, semakin luas wawasannya, maka ia jarang menyalahkan pendapat orang lain. Ilmu harus selalu dicari, karena meningkat.
Sikap seperti itulah yang sepatutnya kita terapkan mengingat motto dari Universitas Airlangga sendiri ialah Excellent with Morality.

Disamping ilmu yang kita peroleh tersebut, disana kita juga mengadakan agenda ziarah ke maqam para sesepuh pendiri pondok pesantren tersebut. Selain itu, kamk juga mengadakan agenda PML mengajar, mengingat para siswa/i SMP akan mengahadapi UN. Hal ini juga mendapat sambutan hangat dari para santri tersebut, ditandai banyaknya santri yang ingin belajar bersama kami serta menanyakan hal apapun yang belum ia bisa. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang menanyakan seperti apa sih unair itu? Fst itu gimana sih kak? Di fst jurusan apa aja kak?
Hal ini tentu bisa membawa branding tersendiri bagi UNAIR, khususnya fakultas kita sendiri, yaitu Fakultas Sains dan Teknologi.

Setelah mengikuti acara PML ini, bukan hanya ilmu pengetahuan yang kita peroleh, namun ilmu kehidupan juga kita dapat. Di pesantren, kita diajari bagaimana untuk hidup sederhana, sederhana dalam hal apapun itu. Pesantren juga mendidik santri agar memiliki sikap khidmat.

Pesantren Masa Libur yang sangat singkat ini tentu mempunyai kesan tersendiri bagi masing-masing individu. Dari beberapa peserta yang sempat ditanya mengenai kesan, pesan, dan saran, tidak sedikit dari mereka yang masih ingin menikmati masa-masa indahnya menjadi seorang santri. Namun, batas waktu dari panitia sendiri yaitu hanya 3 hari. Kegiatan ini ditutup pada hari Senin, 1 Mei 2017 dan ditutup dengan serangkaian agenda yaitu penutupan, pemberian cinderamata, serta foto bersama pengasuh Asrama XIV Hidayatul Qur’an Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang. Setelah itu, peserta bersiap-siap menuju stasiun Peterongan untuk kembali menuju tempat asal menuntut ilmu, yaitu Universitas Airlangga.

Oleh : Beni Hamdani (Fisika 2015) & Prita Amelia (Kimia 2016) & Nur yahdilah (fisika 2016)

Advertisements