Hari Pendidikan Nasional?

Khansa S@F

Sebelum menulis, saya ucapkan selamat hari pendidikan nasional untuk semua para pendidik maupun yang sedang dididik dimanapum berada.

Pasti ada banyak manusia termasuk saya, begitu senangnya menyambut bulan mei. Sebenarnya senang bukan karena memperingati hari pendidikan nasionalnya, melainkan karena bayak hari liburnya. Jelas, kita begitu beda dengan pembelajar terdahulu. Jika pembelajar dahulu begitu giat dan semangat mencari ilmu dan jika ada hari libur begitu kecewa. Sementara pembelajar masa kini? Begitu bahagianya jika di kalender terpampang tanggal mereka selain hari Ahad. Memang tidak semua, tapi kebanyakan begitu, termasuk saya.

Mari sama-sama merenung, mungkin yang saat ini sedang masa belajar pun tak memahami apa itu pendidikan. Atau malah, mereka tidak tahu tujuan mereka belajar untuk apa.

Kebanyakan, mereka sekolah untuk mengejar cita-cita, atau mereka kuliah untuk bekerja.

Memang tidak salah, tapi saat kita tahu, sebenarnya… untuk apa sih kita belajar? untuk apa sih kita mengenyam pendidikan sampai S3 bahkan doktor?. Mungkin belajar kita akan sungguh-sungguh.

Ayo, siapa yang tahu, sebenarnya, untuk apa dan siapa kita belajar?.

Semoga, saat kita ditanya untuk apa dan siapa kita capek-capek belajar, kita menjawab untuk Allah yang Maha Besar. Semoga, niat kita berhulu dan bermuara untuk Allah saja, tidak untuk selain-Nya.

Dalam tulisan kali ini, izinkan saya mengingatkan sedikit kisah bagaimana kesungguhan seorang pembelajar masa dahulu, semoga dengan begitu, niatan kita untuk belajar mulai lurus dan sungguh-sungguh.

Siapa yang tak megenal Imam Syafi’i?, jika belum kenal silakan cari sendiri.

Membandingkan fasilitas masa kini dan masanya (Imam Syafi’i), begitu amat jauh perbedaannya. Tapi mengapa, kualitas hasil pembelajarannya lebih baik pada masanya, padahal saat itu, teknologi belum secanggih masa kini.

Coba kita ambil hikmah dari kisah beliau ini.

Dikisahkan, Saat itu Keadaan sang imam amat miskin, tapi sang ibu tetap berjuang demi anak yang ia cintainya. Beliau rela berjalan jauh ke kota, demi mencari guru terbaik untuk sang anak. Tiba di kota, sang imam kecil berguru pada Imam malik, karena saat itu keadaan sang imam kecil amat miskin, sampai ia tak mampu membeli buku dan pena untuk belajar.

Selama Imam malik mengajar, sang imam kecil menggunakan jari dan ludahnya sebagai tinta. Tangan kiri sebagai pena, ludah sebagai tinta, dan tagan kanan sebagai kertas.

Jelas, melihat sang imam kecil, imam malik amat terganggu. Sampai, setelah pembelajaran usai, imam malik memanggil sang imam kecil. Imam malik memerintahkan sang imam kecil untuk tidak ikut pembelajarannya dikarenakan sang imam hanya bermain-main, Imam malik menganggap sang imam kecil hanya bermain-main dengan tangan dan ludahnya sehingga kegiatan tersebut membuat imam malik merasa terganggu. Lantas, sang imam kecil bersumpah atas nama Allah, dan ia jelaskan bahwa aktifitasnya menggunakan tangan dan ludahnya bukan main-main, melainkan digunakan sebagai pena dan kertas. Ia juga jelaskan bahwa keadaannya amat miskin hingga ia tak mampu membeli pena dan kertas. Saat itu, sang imam kecil pun meyakinkan sang guru dengan mengulang pelajaran hadis dari awal pertemuan sampai akhir di depan sang guru. Setelah kejadian itu, sang imam kecil pum dimuliakan.

Di tempat lain, ibu sang imam berjuang demi anak yang ia cintainya, ia tahu keadaannya amat miskin, namun ia harus memfasilitasi anaknya untuk belajar. Hingga akhirnya ia pergi ke pasar menuju tempat penjualan daging unta. Ia tidak mengambil dagingnnya melainkan mengambil tulang belulang yang sudah tak dipakai, ia meruncingkan tulang tersebut sehingga berbetuk pena. Setelah pergi ke pasar, ia pergi menuju tempat pemerintahan memunguti kertas-kertas yang sudah tak terpakai. Kertas yang tak terpakai itu ia gunakan sebagai buku untuk anaknya belajar.

Begitulah perjuangan ibu sang imam, sekalipun ia tak punya apa-apa, namun ia tetap berusaha memfasilitasi anaknya untuk belajar.

Mungkin, ini yang dinamakan ibu sungguhan, dan selayaknya kita calon ibu masa depan patut meniru bagaimana kesungguhan ibu sang imam demi memperjuangkan anaknya belajar.

Jika dibandingkan saat ini, tentu begitu amat berbeda bukan?, Perpustakaan di mana-mana, buku dan pena jika tak punya tinggal minta, cari referensi tinggal klik media. Lantas, apa yang membuat kita masih berleha-leha?

Kenapa niat kita belajar untuk yang tidak-tidak?,
Ayolah, belajarlah sungguh-sungguh, jangan hanya karena dunia kita lupakan tujuan utama.

Yuk mulai belajar sungguh-sungguh,
Yuk, mulai luruskan niat belajar kita,
Yuk mulai gunakan media yang ada dengan suka cita.
Bersyukurlah dengan fasilitas yang ada,
Dan cara bersyukur terbaik ialah dengan menggunakan semua yang ada dengan sebaik-baiknya.

Wallahua’lam.

2 Mei 2017 22:16 Wib.

Advertisements