OASE ITU BERNAMA PESANTREN MASA LIBUR

Layaknya seorang musafir yang sedang mengarungi samudera perjalanan, mahasiswa dalam misi mulianya dalam menuntut ilmu juga kadangkala lelah dengan beban yang ia bawa. Entah karena terlalu banyak beban mental yang dibawa hingga khawatir akan tujuan yang ia cita – citakan di masa depan. Apabila kita menengok para penjelajah ulung milik umat islam. Ibnu Batutah yang rela meninggalkan kampung halaman untuk melakukan perjalanan di buminya Allah. Hingga sang imam besar Hadits, Imam Bukhari yang rela menghabiskan masa mudanya untuk berkelana melintasi padang pasir hingga melintasi laut merah, jauh sekali dari kota Bukhaira untuk mengumpulkan beragam hadits.

Tentu orang – orang hebat di perjalanan tidak melulu soal menghadapi rintangan, menaklukkan badai sampai bersahabat dengan terik. Adakalanya mereka perlu untuk istirahat. Sejenak meneguk air di tengah padang pasir yang terik misalnya. Dan Allah telah memberikan sumber mata air gurun atau biasa disebut sebagai sebuah oase, penyejuk dahaga bagi mereka yang tengah berkelana. Dan menurut time line Dikti, beberapa waktu yang lalu bangsa Mahasiswa telah selesai mengarungi sebuah peperangan di padang pasir yang tandus. Banyak yang menafsirkan perang ini antara otak dan juga soal – soal dari dosen. Biasa disebut dengan UTS.

Padahal hakikat yang terkandung di dalamnya justru lebih dalam. Rasulullah pernah memberitahu selepas kemenangan perang badar, bahwa umat islam akan menghadapi perang yang lebih dahsyat dari pada perang Badar. Yaitu perang melawan hawa nafsu. Dan di padang tandus UTS inilah hati nurani mahasiswa sepenuhnya di uji. Apakah mereka berkotor – kotor ria dengan contekan atau justru menodai niat dari dalam hati melalui niat untuk mencontek. Hal ini adalah racun hati yang merupakan sintesis dari pada ketidakjujuran. Dan semoga telah menjadi sebuah ketetapan, bahwa Allah kembali menghadirkan sebuah telaga dahaga bagi mereka yang lelah dalam berperang melawan hawa nafsu di dunia mahasiswa.

Oase itu bernama Pesantren Masa Libur, yang digagas oleh JIMM atau Jama’ah Intelektual Mahasiswa Muslim Fakultas Sains dan Teknologi UNAIR. Mereka dan alhamdulillah diri ini juga diberi kesempatan untuk ikut andil dalam sebuah ekspedisi batin di sebuah pesantren, bernama Darul Ulum di sudut daerah Jombang. Sebuah pesantren dengan budaya ta’dzim (hormat) yang luar biasa besarnya kepada guru dan juga pengasuh pesantren. Selama 3 hari disana, kami mengais ilmu agama mengenai etika dalam menuntut ilmu yang dibarengi dengan merasakan kehidupan pesantren. Selain itu, 3 hari disana juga sebagai upaya untuk membersihkan hati dari kotoran – kotoran yang telah menggelayut selama masa UTS. Untuk siap kembali melanjutkan perjalanan. Benar – benar Oase dalam perjalanan menuntut ilmu.

Sebuah Epilog mengatakan, kecerdasan ilmu hanya mengantarkanmu meraih gemerlap dunia. Namun, ta’dzim (hormat) kepada ilmu dan yang mengajarkan ilmu akan menuntunmu kepada keberkahan dunia dan akhirat. Maka letakkan selalu urusan dunia di tangan, genggam semuanya, jangan sampai lepas. Dan ingat, jangan pernah sekali – kali memasukkannya ke hati. Karena hal itu akan membutakan jalan hidupmu dan menutup keberkahan akhirat bagimu.

Oleh : Moh. Wahyu Syafi’ul Mubarok

Advertisements