Bolehkah Aku menjadi Muslimah Karir?

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh,

Sahabat kiswah, adakah diantara kalian yang bingung, “Bolehkah seorang muslimah berkarir?”, atau masih penasaran, “ Bagaimana Islam memandang tentang muslimah yang berkarir?”. Nah, pertanyaan ini akan dibahas pada resume KISWAH yang telah  dilaksanakan pada tanggal 7 April 2017 yang disampaikan oleh Ustadzah Annisa Ayu Utami.

Sebelum membahas tentang muslimah karir, kita akan membahas apa arti dari wanita. Menurut KBBI wanita adalah perempuan dewasa, menurut Kiai Dahlan wanita adalah aset umat bangsa, menurut Yusuf Al Qardhawi wanita adalah penyempurna bagi kaum laki-laki. Taukah sahabat ternyata tenaga kerja wanita di Indonesia cukup banyak. Berdasarkan data dari ILO (Organisasi Buruh Indonesia) 30 % dari 120 juta pekerja adalah wanita. Nah, bagaimana Islam memandang hal tersebut?

Islam adalah agama yang universal, Islam mengatur semua hal bahkan hal kecil sekalipun, apalagi tentang harkat dan martabat wanita. Dalam Islam , wanita sangat dimuliakan. Islam memuliakan kedudukan kaum wanita, baik sebagai ibu, sebagai anak atau saudara perempuan, dan juga sebagai istri. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia menuturkan bahwa Hindun binti ‘Utbah berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah suami yang pelit. Ia tidak memberikan nafkah yang cukup untukku dan anakku, kecuali apa-apa yang aku ambil darinya dengan sembunyi-sembunyi” maka Rasulullah bersabda :

“Ambilah harta yang mencukupi dirimu dan anakmu dengan cara yang ma’ruf (baik)” (HR. Al Bukhari dalam Shahih-nya (no.5324), Kitab “an-Nafaqaat”, Bab “Idzaa Iam YunfiqirRajulu”; Muslim dalam Shahih-nya (no.1714),Kitab “al-Aqdhiyah”, Bab “Qadhiyah Hind”, dari ‘Aisyah).

Islam adalah agama yang sempurna, tidaklah mengungkung para wanita dan sama sekali tidak memperbolehkannya keluar rumah. Adakalanya wanita dibutuhkan kehadirannya di luar. Lalu, bagaimana aturan Islam bila wanita harus keluar rumah??

Ada empat atturan Islam untuk wanita yang harus keluar rumah yaitu : Mendapatkan izin dari walinya; Berpakaian secara syar’i; Aman dari fitnah,dan Adanya mahram ketika bepergian jauh.

Adapun batasan-batasan jika keluar rumah, yaitu :Tidak keluar sendirian apalagi pulang larut malam, kalaupun keluar sendiri senantiasa pandai melihat kondisi yang tidak membahayakan dirinya; Berpakaian rapi dan sopan (menutup aurat); Tidak memamerkan perhiasan yang bisa mengundang tindakan kriminal; Tidak berlebihan dalam bersolek dan dalam memakai wangi-wangian; Menundukkan pandangan terhadap lawan jenis; Memperhatikan batasan pergaulan dengan lawan jenis dan menjaga perilaku; Bertutur kata yang bijak/ sopan guna menghindari fitnah dari lawan jenis.

Allah berfirman dalam QS. Al- Ahzaab :33, yang artinya :

“…dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.”

Perintah ini diturunkan, karena dikhawatirkan terjadi hal-hal seperti; Bercampur dengan lelaki, berkenalan, bebas mengobrol dan bertatap muka dengan yang diharamkan; Memakai minyak wangi berlebihan, tak jarang banyak yang memperlihatkan aurat kepada selain mahramnya, sehingga bisa menyeret pada kasus perselingkuhan atau perzinahan; Hasratnya tertuju pada pekerjaan, sedangkan jiwa, pikiran dan perasaannya menjadi sibuk, lupa dan bertambah jauh dari tugas-tugasnya yang alami, yaitu keharusan membina kehidupan suami istri, mendidik anak-anak dan juga urusan rumah tangga.

“Wanita tetaplah wanita dan janganlah melupakan kerajaan kecilnya, yaitu rumahnya, karena disitulah letak fitrah bagi dirinya”

Wanita boleh bekerja, asalkan : Adanya izin dari walinya; Pekerjaannya harus halal; Menjaga kehormatan dirinya, baik saat di dalam rumah maupun ketika bekerja di luar rumah; Tidak ada percampuran bebas antara laki-laki dan perempuan; Tidak memakai pakaian yang ketat; dan jenis pekerjaan tidak mengurangi apalagi melnggar kewajiaban terhadap suami, anak-anak dan urusan rumah tangga.

Dari berbagai penjelasan diatas, tetaplah sebaik-baiknya tempat bagi wanita adalah rumahnya. Hendaklah wanita berdiam diri di rumahnya dan tidak keluar kecuali jika ada kebutuhan. Sehingga jika ada pekerjaan bagi wanita yang bisa dikerjakan di rumah itu tentu lebi layak dan lebih baik. Dan perlu ditekankan bahwa kewajiban mencari nafkah bukanlah jadi tuntutan bagi wanita, namun prialah yang diharuskan demikian.

Demikian penjelasan tentang pandangan Islam tentang muslimah karir. Semoga setiap ilmu yang kita peroleh dapat bermanfaat dan menjadi bekal kita untuk menjadi muslimah yang lebih baik lagi.

Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Pemateri: Annisa Ayu Utami

Notulen : Devi Endah S.R.

Advertisements