KAJIAN AQIDAH (Sifat Allah)

🌻RESUME KAJIAN AQIDAH🌻
Rabu, 15 Maret 2017

Mengkaji kitab Aqidatul Awwam karya  Syaikh as-Sayyid al-Marzuqiy

Pemateri :  M. Ariful Khakim (kadept Keilmuan JIMM 2014)
Notulis : Ishardina

This slideshow requires JavaScript.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

*pembukaan*
Ketika ada sebuah pertanyaan, “Sejak kapankah islam itu ada?” maka jawabannya bukan dari zaman Rosulullah, melainkan ketika Allah mengucapkan “Kun Fayakun” maka sejak saat itulah islam telah ada. Kalimat “Fayakun” tersebut terdiri dari huruf fa’ jawab dan fi’il mudlori’, hal itu berarti islam datang dengan proses yang telah ditetapkan Allah sejak Allah mengucapkan “Kun”.  Pada zaman rosulullah lah islam di sempurnakan dengan adanya kitab suci Alquran.

“Allah menciptakan segala sesuatu dengan indah. Dengan proses yang dikehendaki Allah, kita akan mengetahui kebesaran dan keagungan-Nya”

Syekh Marzuqy mengarang kitab ini, bermula ketika beliau mimpi berjumpa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan para Sahabatnya pada akhir malam Jum’at pertama di bulan Rajab

📝ISI KAJIAN📝

Aqoid : Sesuatu yg harus di ketahui dan diyakini oleh seorang yang beriman kepada Allah dan rosulnya.
Aqoid itu ada 50, terbagi menjadi:
1. 20 sifat wajib Allah
2. 20 sifat mustahil Allah
3. 1 sifat jaiz Allah
4. 4 sifat wajib nabi dan rosul
5. 4 sifat mustahil nabi dan rosul
6. 1 sifat jaiz nabi dan rosul

~7 dari 20 Sifat wajib  Allah~
1. Wujud (ada) x ‘adam (tidak ada)
Naqli => surat taha : 14
Aqli   =>  adanya sesuatu, karena ada yang menciptakan dan mengawali. Maka, tidak akan ada ciptaan jika tidak ada penciptanya.

– Manusia sekarang tidak bisa melihat Allah Swt karena memang ada hijab, kelak di surga ketika hijab itu di angkat, manusia akan mampu melihat dengan jelas dzat Allah dg mata telanjang.
– Adanya alam semesta beserta isinya, merupakan tanda bahwa Allah Ada.
2. Qidam (dahulu) x hudus (baru)
Naqli => al hadid : 3
Aqli   =>   Sebagai dzat yang menciptakan seluruh alam, Allah swt pasti lebih dahulu sebelum makluk.
– Dahulu nya Allah tanpa awal, bukan dari tidak ada menjadi ada.
3. Baqa’ (kekal) x fana’ (rusak)
Naqli => ar-rahman : 26-27, al- qasash : 88
Aqli   => Tuhan tidak mungkin rusak, tidak mungkin lebih lemah daripada ciptaan-Nya.
Allah SWT adalah dzat yang maha mengatur alam semesta, Dia selalu ada selama lamanya dan tidak akan binasa untuk mengatur ciptaan nya.
4. Mukhalafatu lil hawaditsi ( berbeda dengan makhluk lain) x mumatsalatu lil hawaditsi ( sama dengan makhluk lain)
Naqli => as-syura : 11
Aqli   => Allah berbeda dari makhluknya, walaupun Allah Maha mendengar, tetapi bukan berarti Allah mempunyai telinga seperti manusia. Pendengaran Allah berbeda dengan makhluk-Nya. Perbedaan Allah SWT dengan makhluk nya itu mencakup segala hal  baik dalam sifat,dzat dan perbuatannya.

5. Qiyamuhu binafsihi (tidak butuh makhluk lain) x ihtiyaj li ghoirihi ( butuh makhluk lain)
Naqli => Al-ankabut : 6, Al-fatir : 15
Aqli   => Allah tidak butuh terhadap sesuatu apapun. Allah berbeda dengan mahlik-Nya yang membutuhkan sesuatu diluar dirinya. Allah meciptakan malaikat, bukan berarti Allah butuh bantuan malaikat untuk melaksanakan tugas. Pun ketika Allah menciptakan Rosul, bukan berarti Allah membutuhkan bantuan untuk menyampaikan wahyu.
6. Wahdaniyah (esa) x ta’addud (berbilang)
Naqli => al- anbiya : 108
Aqli   => Allah itu satu, satu dalam dzat ( dzat Allah satu, tidak tersusun dari beberapa unsur/anggota badan dan tidak ada satupun dzat yg menyamainya).
Satu dalam sifat (tidak ada satu pun sifat yg menyamai sifatnya Allah)
Satu dalam perbuatan ( hanya allah yg memiliki perbuatan, dan tidak satupun yg dapat menyamai perbuatan Allah)
7.  Qudrat ( berkuasa) x ajzun (lemah)
Naqli => al-hasyr : 6
Aqli   => Allah berkuasa untuk mewujudkan dan meniadakan. Oleh karena itu, janganlah kita sering meniadakan sesuatu. Sebagai contoh, meremehkan semut yang lewat.  Semut itu akan mati, namun kita tak akan pernah bisa mewujudkannya kembali. Allah punya  kekuasaan tidak terbatas.

*penutup*
“Sesungguhnya, kita tidak boleh berpikir tentang Allah menggunakan akal, namun dengan cinta dan keimanan”

“Ketika berdiskusi, jadilah gelas yang kosong. Gelas yang didalamnya ada setetes tinta, maka sebersih apapun air yang dituangkan ke dalamnya, aka tetap keruh”
Artinya, jangan pernah membawa golongan, emosi  ataupun pemahaman sepihak. Karena, hal-hal tersebut akan menghalangi keikhlasan kita dalam berdiskusi dan menghalangi jalan kita menuju Allah.

📌 Belajar apapun, jangan hanya diambil pengetahuannya saja. Tetapi coba kita pikirkan dan renungkan, kita ambil hikmahnya dan jadikan terapan. Kita terapkan apa yang telah kita pelajari kedalam kehidupan kita. 📌

Semoga bermanfaat…
Wallahu a’lam
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

#Keilmuan
#JIMMengabdi
#MyFriendMyFamily Allahu Akbar

Advertisements