*BERDAMAI DENGAN KENYATAAN*

salam-damai

Saya teringat dengan pelajaran genetika mendel mengenai hukum persilangan monohibrid, dihibrida, dan kawan – kawannya. Yang baru saja dikupas semester 1 ini.

Ada satu hal yang membuat saya tertarik dengan pembahasan ini. Jangan dikira saya akan membahas dari sisi ilmu biologi lengkap dengan fenotip dan juga genotip. Sekali lagi bukan.

Hal itu adalah sebuah teori milik gregory mendel bapak hereditas yang mengatakan bahwa gen dominan akan mempengaruhi seluruh keturunannya.

Dalam artian yang lebih sederhana, sebuah petak lahan dengan 4 pohon keturunan dari mangga manis, 3 diantaranya pasti manis. Namun faktanya kebanyakan justru sebaliknya.

Begitulah teori hanya sebatas harapan dan ia akan terus bertahan sebelum ada teori – teori baru yang mematahkan. Mendel sendiri pun berharap gen dominan adalah gen yang menguntungkan bagi manusia.

Dan perspektif kehidupan pun mulai berbicara. Sebagai refleksi pribadi, kita sering mengharapkan beragam hal yang dimiliki oleh orang lain.

Mulai dari rumah mewah, harta berlimpah, hingga kehidupan yang bahagia. Bahkan yang paling horor menganggap bahwa Allah sudah tidak adil kepada hambanya.

Namun, sudahkah sejenak kita menengok ke diri kita masing – masing nikmat apa saja yang telah diberi. Setidaknya sudahkah kita bersyukur ?

Karena hobiΒ  membanding – bandingkan diri pribadi dengan orang lain perihal duniawi justru malah menimbulkan sakit hati.

Bukankah cerita bijak dari zaman rasul telah memberitahu jangan terlalu lama mendongak ke atas mengenai urusan dunia tetapi teruslah mendongak ke atas untuk akhirat kelak.

Karena bisa jadi hidup orang yang kita bandingkan justru mendambakan kehidupan milik kita. Begitulah hidup memang sawang – sinawang.

Seolah – olah pelangi kebahagiaan hanya berada di atas kepala orang lain. Sementara kita selalu merasa ada badai di kepala kita.

Mari kita mensyukuri apa yang telah diberi oleh Allah sepanjang hidup ini. Nikmati setiap detik kehidupan ini. Dengan begitu insyaallah hidup akan lebih berwarna dan penuh kedamaian.

Sudah saatnya kita berdamai dengan kenyataan. Karena indahnya teori seorang mendel di mata para agraria hanya sebatas harapan semu. Bukankah begitu ? 😁😊

*Sendangagung, 24 Januari 2017

#SemangatBeraktivitas πŸ˜ŠπŸ™

Oleh : Moh. Wahyu Syafi’ul Mubarok

Advertisements