“MENCINTAI KEHILANGAN”

Mencintai Kehilangan, apa sih sebenarnya maksud dari kalimat ini? Mencintai kehilangan bukan diasumsikan kita kehilangan sesuatu tapi kemudian senang, tetapi yang dimaksud mencintai kehilangan disini adalah bagaimana kita sebagai seorang muslimah memanajemen diri kita ketika kehilangan sesuatu. Sebagaimana Allah berfirman,

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu ; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui” (Al-Baqarah: 216)

Ada juga sebuah pepatah yang mengatakan bahwa batas antara benci dan cinta itu bagai sehelai rambut. Begitu tipis dan susah untuk diukur. Oleh karena itu, kita harus proporsional untuk menyikapi hal tersebut. Dalam surat Al-Baqarah 155-156 Allah juga berfirman,

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila di timpa musibah mereka berkata, sesungguhnya kami milik allah dan kepada-Nyalah kami kembali.”

Dari ayat tersebut dapat kita simpulkan bahwa untuk memanajemen ketika kehilangan yaitu dengan cara sabar, ikhlas dan mengucapkan innalillahi wa inna ilaihiroji’un. Sabar merupakan salah satu cabang dari iman dan cabang iman yang paling rendah adalah malu. Allah juga berfirman dalam Surah Az-Zumar :49

“Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: ”Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui”.

Kita bisa belajar tentang bagaimana mencintai kehilangan dari kisah kisah pada zaman nabi. Salah satunya ialah kisah Nabi Ibrahim AS yang rela untuk meninggalkan siti hajar dan anaknya yang masih berumur 5 tahun di bukit shafa dan marwah karena perintah Allah SWT.

Kemudian, ada juga kisah handalah yang menikah pada sore hari dan di perintahkan perang pada malam harinya. Sebelum perang handalah melakukan hubungan suami istri dan belum bersuci, lalu ketika perang beliau mati syahid. Oleh karena itu, jasad handalah adalah satu-satunya jasad yang dimandikan oleh malaikat. Dari kisah ini dapat kita ambil pelajaran bahwa ketika kehilangan itu rencana Allah dan rencana kita adalah beradaptasi dengan rencana Allah.

Lalu, ada pula kisah yang perlu kita teladani dari para sahabat nabi. Diantaranya yaitu, Sayyidina Umar bin Khattab yang rela mengorbankan2/3  hartanya untuk perang di jalan Allah SWT dan Sayyidina Abu bakar yang rela mengorbankan seluruh hartanya untuk perang. Lalu Rasul bertanya kepada Abu bakar,”kau tinggalkan keluargamu dengan apa?” Sayyidina Abu bakar menjawab dengan jawaban yang luar biasa yaitu,”Rasul dan Allah”. Akan tetapi, bukan itu yang rasul inginkan. Kalau mengorbankan sesuatu harus memikirkan diri sendiri, keluarga, dan orang lain.

Dari ulasan yang telah disampaikan tentang mencintai kehilangan, dapat diambil pelajaran bahwa kita sebagai seorang muslimah harus bisa mengatur diri kita ketika kita kehilangan sesuatu yaitu dengan sabar, ikhlas dan mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Karena kita semua tahu bahwa semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah SWT, dan kepada-Nyalah semua kembali.

Advertisements