“Bersihkan Hati Dengan Bersyukur”

Oleh : Mbak Uki

Syukur, apa sih itu syukur? Syukur merupakan rasa terimakasih kepada Allah SWT atas nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita. Begitu banyak nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita, tetapi sering kali kita buta akan nikmat tersebut dan akhirnya bersuudzon kepada Allah SWT. Bisa jadi kita faqir kepada nikmat yang Allah berikan, sehingga lupa akan bersyukur terhadap nikmat-Nya.  Oleh karena itu, kita sebagai umat muslim yang beriman harus senantiasa memperbarui syukur kita.

Sebagai seorang muslim yang beriman, sudah sepantasnya kita bias meneladani Rasulullah SAW sebagai pemimpin, guru dan panutan kita. Beliau bias hidup dengan sangat sederhana. Bagaimana bisa? Rasulullah SAW bisa hidup dengan sangat sederhana karena rasa syukur yang amat besar  atas nikmat yang telah Allah SWT berikan kepadanya. Beliau siang dan malam

Sebelum kita melihat syukur kita, alangkah baiknya kita melihat faqir kita terlebih dahulu. Faqir ada dua macam yaitu, faqir tamak dan faqir keimanan. Faqir tamak ini merupakan faqir yang berdasarkan harta duniawi, misalnya pada saat kita sudah diberikan nikmat yang cukup tetapi kita malah menambah daftar keinginan kita.Sedangkan faqir keimanan merupakan faqir yang sesungguhnya. Faqir ini merupakan faqir yang paling berbahaya.

Dalam bahasan syukur, kita tidak akan terlepas dari istilah “cinta dunia” dan “cinta akhirat”. Kedua istilah tersebut sangat erat dan kuat hubungannya dengan hati kita.  Berbicara tentang hati, kelapangan hati sangat berhubungan erat juga dengan Syukur. Kelapangan atau kesempitan hati kita merupakan ujian bagi kita, apakah pada saat kita mendapat kelapangan nikmat kita bersyukur dan apakah kesempitan membuat kita bersandar kepada-Nya? Karena kebanyakan dari kita pada saat mendapatkan kelapangan nikmat lupa untuk bersyukur kepada-Nya dan ketika mendapat kesempitan lupa untuk bersandar kepada-Nya.

Syukur juga berkaitan dengan ingatan kita. Ada satu pernyataan, “Saat kita kaya kita lupa untuk bersyukur, saat faqir kita berputus asa”. Pernyataan itu merupakan ujian bagi kita dan bagi hati kita. Tidak seharusnya pada saat kita kaya kita lupa untuk bersyukur atas nikmat yang kita peroleh, dan tidak seharusnya pada saat kita faqir, kita berputus asa dan bersuudzon kepada-Nya. Karena hal tersebut merupakan ujian bagi kita sebagai umat yang beriman, maka saat kita berhasil melewati/ menghadapi ujian tersebut, kita akan menjadi insan yang mulia.

Syukur itu serupa dengan Iman, maksudnya disini ialah syukur juga mempunya dimensi yang sama dengan iman yaitu hati, lisan, dan perbuatan. Selain kita harus bersyukur dengan hati kita, kita juga bersyukur dengan lisan kita, yang paling sederhana yaitu ucapan “hamdalah”. Dan selain dengan lisan, kita juga harus bersyukur dengan perbuatan kita. Bagaimana cara bersyukur dengan perbuatan? Yaitu dengan melaksanakan apa yang menjadi kewajiban dan amanah kita dengan sebaik-baiknya.

Syukur bisa menjadi penyuci hati. Bagaimana bisa?

Dengan syukur, kita bisa mengenal Allah SWT lebih dalam dan semakin dalam kita mengenal Allah SWT, semakin dekat pula kita dengan kebersihan hati.

“Seorang mukmin ibarat matahari, Apabila ia terbenam di suatu tempat, maka ia terbit di suatu tempat yang lain.”

Q&A

Q : Kapan kita bersyukur dan kapan harusnya kita melakukan yang terbaik? Karena terkadang kita tidak tahu mana yang harus didahulukan.

A : Sejatinya syukur itu bukan sesuatu yang pasif, syukur itu sesuatu yang aktif, jadi syukur bisa kita libatkan dalam amanah yang kita terima. Melakukan apa yang diamanahkan kepada kita dengan sebaik-baiknya, itu sudah termasuk syukur. J

 

Advertisements