Amanah dan Cinta “Ku Sambut Seruan Mu dengan Cinta”

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

142687.jpgDan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (Al-‘Isrā’):70

Cinta, sebuah kata singkat yang memiliki makna luas walaupun belum teridentifikasi secara pasti, namun eksistensi cinta diakui oleh semua manusia. Cinta bisa membuat orang yang lemah menjadi kuat, cinta bisa membuat orang yang kasar menjadi lembut, cinta bisa membuat orang yang putus asa menjadi semangat, bahkan cinta bisa membuat orang yang penakut menjadi pemberani.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.(Maryam:96 )

Ketika kita sudah memiliki rasa cinta maka pastilah kita akan rela melakukan segala hal untuk yang kita cintai, itulah pengorbanan cinta. Dalam hal ini adalah cinta kita kepada Allah SWT.

Amanah, artinya dapat dipercaya. Saat kita di beri amanah artinya orang percaya dengan kemampuan kita untuk mengemban misi. Sebuah amanah pasti akan melahirkan tanggung jawab dan menuntut totalitas kita dalam melaksanakan misi yang diberikan kepada kita.

Cinta akan melahirkan pengorbanan dan Amanah akan melahirkan tanggung jawab yang pada akhirnya ketika kita memiliki rasa cinta terhadap amanah yang diberikan pada kita maka akan tercipta Ruhul Istijabah yaitu jiwa responsif. Karena dengan adanya rasa cinta maka akan lebih tanggap dan bersegera melaksanakan tanggung jawab yang kita emban.

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan. (Al-‘Anfāl):24

Selanjutnya saat kita sudah memiliki rasa pada tanggung jawab yang kita emban maka ketika kita menerima amanah yang akan kita lakukan adalah sami’na waatho’na. Seperti yang dilakukan para sahabat Rasulullah SAW., contohnya Khabbab bin Al Mundzir ketika mengusulkan lokasi strategis bagi pasukan muslimin pada perang Badar dan juga Salman Al Farizi ketika perang Khandaq (perang Parit).

Ruhul Istijabah memiliki empat aspek yaitu Istijabah Fikriyah, Istijabah Nafsiyah, Istijabah Maaliyah, dan Istijabah Harakiyah. Yang pertama, Istijabah Fikriyah artinya merespon dengan ide dan gagasan terhadap apa yang diperintahkan. Yang kedua, Istijabah Nafsiyah artinya menyambut dengan perasaan atau emosi terhadap apa yang diperintahkan. Perasaan atau emosi dalam menyambut suatu perintah adalah dengan perasaan senang, gembira, bahagia dan semangat.

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (At-Tawbah):41

Yang ketiga, Istihjabah Maaliyah artinya menyambut dengan harta. Karena berkorban dengan harta dan jiwa sudah menjadi satu paket yang tidak boleh dipisahkan satu dari lainnya.

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (At-Tawbah):111

Dan yang ke empat adalah Istijabah Harakiyah artinya menyambut dengan gerakan dan aktivitas atau dengan kata lain yaitu dengan jasad kita.

Ruhul Istijabah merupakan kondisi jiwa yang tidak bisa dipaksakan. Tidak bisa muncul begitu saja, tapi sebuah kondisi yang membutuhkan proses. Agar Ruhul Istijabah ini dapat ada pada diri kita maka ada sifat-sifat yang merupakan faktor pendukung munculnya Ruhul Istijiabah yang harus kita miliki ada empat hal yaitu yang pertama kita harus menghentakkan keyakinan yang kuat, yang kedua khusnudzon atas semua takdir Allah karena Allah selalu memberikan apa yang kita butuhkan bukan sesuatu yang kita inginkan, kemudian yang ketiga adalah ukhuwah yang maksimal dan yang keempat yaitu sabar yang tidak pernah berhenti, apabila dakwah kita tidak sampai pada orang yang kita dakwahi itu artinya kita harus lebih bersabar lagi dan melakukan evaluasi terhadap diri kita. (evivi)

*Materi Kiswah sekaligus materi keakhwatan PDK 2 Kampus

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

 

Advertisements