Sepasang Bidadari

muslimah_20131204_143304

Begitu mulianya seorang wanita, apalagi muslimah. Ketika kecil, ia jadi permata keluarga. Ketika jadi istri, ia kunci sukses suami tercinta. Ketika jadi ibu, surgapun berada ditelapak kakinya. Ketika mati, surga pun menanti-nantikan kehadirannya”.

Hancurnya suatu negeri, suatu bangsa, suatu keluarga dan suatu agama disebabkan telah rusak wanitanya. Wanita adalah madrasah pertama bagi sang generasi emas selanjutnya. Ibarat bangunan, merekalah tiangnya. Tingginya pendidikan wanita bukan hanya untuk pandai menjadi karyawati tapi untuk menjadi madrasah terbaik bagi sang buah hati.

Wanita diciptakan dari tulang rusak sebelah kiri. Dekat dengan jatung dan hati agar mudah dicintai. Wanita tidak diciptakan dari kaki. Karena begitu berharga untuk diinjak apalagi diperbudak.

Ibarat bermain layang-layang, wanitalah benangnya. Layang-layang ibarat sifat laki-laki yang selalu ingin terbang dan menjulang tinggi. Wanita laksana benang yang dibutuhkannya. Yang dibutuhkan bukan hanya bagusnya benang tapi kuatnya benang dalam menahan tekanan.

Begitu besar kasih sayangnya, laksana mentari yang menyinari bumi. Tak ada rasa dengki, pilih kasih, hingga benci dalam hati. Nasehatnya pun begitu tinggi. Berisikan kasih sayang dan cinta yang murni. Satu yang menjadi harapannya, jangan sampai hidup anaknya seperti mereka. Harapannya pun begitu suci, tak pantas seolah tuk diingkari. Hanya memberi, tak pernah sedikitpun ingin kembali.

Merekalah kunci sukses semua manusia. Bahkan keridhaan Tuhan pun bergantung darinya. Maka sudah sepantasnya, seorang anak patuh dan mendo’akannya bukan malah durhaka dan menyalahkannya karena hanya mereka terlihat lemah. Sekali terucap kata-kata dari lisannya, menjadilah do’a dan senjata. Senjata yang membahagiakan atau malah menakutkan dan mengerikan. Dimana malaikatlah yang mengiringinya dan langsung mengaminkannya.

Ketika Anda berbuat baik maka pahalanya pun mengalir padanya. Namun ketika Anda berbuat dosa dan maksiat, maka secara tak sengaja kau pun telah menyiksanya dan mengajaknya ke neraka.

Itulah inti dan pilihan menjadi anak sholeh atau saleh. Ingin jadi anak yang didambakan atau anak yang menyengsarakan. Barangsiapa ingin membahagiakan orang tuanya. Tuhan pun mempermudah jalannya.

Hayati puisi karya Bimo Syekti berjudul Rambut yang Memutih berikut ini.

“Empat puluh satu tahun yang lalu tak terasa. Saat pertama kali aku dilahirkan di dunia. Jiwaku pun masih suci tanpa noda dan dosa. Aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Elusan jemari yang begitu lembut mulai terasa.

Bisikan merdu terdengar bersuara. Ibu pun berbicara sambil mengusap air mata, “Sudahlah nak, jangan menangis. Ibu akan selalu ada dan menjagamu hingga ajal tiba. Nak, jadilah orang yang berguna. Yang mampu menyenangkan setiap jiwa. Jadilah orang yang patuh dan taat pada ibu dan bapa. Takutlah pada yang menciptakan disana, jangan pernah kau melupakan tentang adanya. Janganlah sombong terhadap yang kau punya, karena kau tak akan membawa apa-apa ketika tiada kecuali amal yang menemani setia.

Nak, jadilah orang yang takut neraka. Jadilah orang yang selalu merindukan surga. Dirikan kegagahanmu diatas sajadah yang penuh makna. Sinari keelokan paras rupamu dengan cahaya. Basuhi dengan air yang suci, saat kau melangkah.

Nak, kaulah harapan ibu nanti di alam sana. Jadikanlah jiwamu yang sempurna. Kembalilah padaNya seperti kau lahir pertama kali kedunia, bersih tanpa noda dan dosa. Disaat pertama kau mendengar suara, hanya kalimat suci yang terdengar di telinga maka saat terakhir kau berada di dunia, maka ucapkanlah pula kalimat suci untuk terakhir kalinya”.

Itulah cinta suci. Cinta yang mampu melahirkan keajaiban, kasih sayang, dan kebahagiaan seseorang. Memang pantaslah seorang ibu dan seorang istri disebut sebagai sepasang bidadari. Ketika kecil, ia jadi permata keluarga. Ketika jadi istri, ia penentu sukses suami tercinta. Ketika jadi ibu, surgapun berada ditelapak kakinya. Ketika telah mati, surga pun rindu menanti-nantikannya. Bukan hanya penduduk bumi yang mengagumi. Penduduk langit pun merasa iri melihat kebaikan hatinya.

Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan yang lemah bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun.”

(Q.S. Al-Luqman [31]: 14)

Oleh  : Sunali Agus Eko Purnomo (Penulis Buku “Cahaya Sejati ataukah Cahaya Semu”)

Advertisements