Hati-hati dengan Hati (KISWAH)

20160320092018.jpg
KISWAH 18 Maret 2016

Oleh : Nur Aini Susiyanti (Alumni D3 OSI UNAIR)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Hati, apa kabar hari ini?

Berbicara tentang hati, pastilah pikiran kita akan bias. Hati yang mana? Hati yang seperti apa?

Dalam sebuah hadits Arba’in,

“Sesungguhnya dalam diri manusia itu ada segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik maka baik pula seluruhnya, dan apabila segumpal daging itu buruk maka buruk pula seluruhnya. Segumpal daging itu adalah HATI.” (HR. Bukhori)

Sebagai manusia biasa sudah barang tentu hati kita pernah melakukan kesalahan, sehingga kesalahan itu menyebabkan penyakit hati yang menimbulkan kerak-kerak dosa. Penyakit hati itu dapat berupa sifat-sifat buruk seperti iri hati, dengki, ujub, ghibah, su’udzon, riya’, sum’ah, malas, dan lain sebagainya, namun ada kalanya penyakit hati berupa perasaan yang tidak pada tempatnya. Perasaan yang tidak pada tempatnya adalah mencintai seseorang yang belum halal baginya.

Setiap muslimah pasti pernah merasa jatuh cinta?

Awalnya hanya berpapasan, lalu tidak sengaja berkenalan dan akhirnya timbul desir-desir kagum yang berkembang menjadi rasa ingin memperoleh jodoh seperti ikhwan itu.

Sebenarnya boleh nggak sih jatuh cinta?

Ukhty fillah, rasa cinta dan kasih sayang adalah rahmat dari Sang Maha Cinta yang patut disyukuri, namun hati-hatilah dengan hati. Kebanyakan muslimah akhir zaman salah dalam memanagemen rasa yang berdesir dalam hati mereka hingga terperosok dalam zina. Bukan hanya zina besar, tapi banyak sekali zina kecil yang akhirnya dilakukan seperti memandangi si ikhwan, memikirkannya dan lain sebagainya. Jangan mengkhawatirkan jodoh, karena setiap manusia sudah ditakdirkan jodohnya. Sibukkanlah dengan memperbaiki diri karena jodoh adalah cerminan diri. Muslimah yang baik adalah untuk ikhwan yang baik pula, begitu sebaliknya.

Jika sdah terjangkit penyakit hati. Then, what must I do?

Menghilangkan? Pasti sulit dan lama. Jawabannya dalah minimalisir dulu penyakit hati yang sedang ukh alami.

How?

Nih, ukh Susi punya tips bagus. Check this out!

  1. Melakukan apapun yang diridhoi Allah.

Saat hati mulai terserang virus, bergumamlah pada diri sendiri, “ Allah ridho nggak ya kalau aku seperti ini?”. Jika Allah tidak ridho maka jangan lakukan. Namun, apabila sulit menghentikannnya coba tulislah perasaan yang menggelayuti langit hatimu itu sehingga tidak dapat bersinar cerah dan berdoalah pada Allah agar diberi ketetapan hati yang bersih.

  1. Menjadikan sifat-sifat Allah ada pada kita.

Pada dasarnya manusia itu mewarisi sifat-sifat yang ada dalam asma’ul husna, seperti sifat mengasihi, menyayangi, pemaaf, dan lain sebagainya. Karena hati yang memiliki penyakit tertutup oleh kerak-kerak dosa yang semakin lama semakin tebal sehingga sifat-sifat Allah semakin jauh dari diri manusia. Maka untuk itu berusahalah agar sifat-sifat Allah kembali padamu.

Seorang muslimah yang memiliki hati yang sehat laksana bintang yang bersinar akan dapat dilihat oleh siapapun. Sesederhana apapun penampilan luarnya, namun terang sinar hatinya dapat dirasakan oleh orang-orang disekitarnnya.

Nah, tentulah ukhty ingin memiliki hati yang bersinar dan sehat. Parameter hati yang sehat dapat diindikasikan dengan :

  1. Saat melakukan kesalahan seketika itu langsung menyadari kesalahannya tersebut.
  2. Meyakini bahwa setiap rasa pasti memiliki tuannya.

Jika timbul rasa yang tidak bertuan, maka perbanyaklah istighfar dan tambahlah kesibukanmu dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat.

Yaa Allah,

Wahai dzat yang maha membolak balikkan hati. Ajarkan aku untuk selalu memiliki hati yang cantik. Tidak peduli meski orang-orang tidak pernah sekalipun menyadari kecantikan hati tersebut. Aamiin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Resume dan ditulis kembali oleh tim kemuslimahan JIMM FST

#KISWAH

#Kemuslimahan_Ceriwis

#BidadariBeransel

#JIMM_Melangkah

Advertisements