[PKM Didanai] Dari Limbah untuk Limbah

kabar jimm

Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) merupakan sebuah program dari DIKTI yang ditujukan kepada mahasiswa-mahasiwa di seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Melalui PKM ini mahasiswa dengan ide-ide cemerlang dapat menuangkan kreativitasnya. Secara umum PKM dibagi menjadi beberapa bidang, diantaranya adalah penelitian, pengabdian masyarakat, kewirausahaan. Mahasiswa dapat mengirimkan proposalnya ke DIKTI dan apabila didanai akan mendapatkan waktu 3 hingga 5 bulan pengerjaan. Pengerjaan ini akan dipantau melalui kegiatan Monitoring dan Evaluasi.

PKM di UNAIR sendiri merupakan salah satu bidang yang cukup prestisius bagi mahasiswa. Pada tahun pelaksanaan 2014-2015 UNAIR menargetkan 1.000 proposal yang diajukan. PKM ditangani secara khusus oleh BSO Garuda Sakti yang juga menangai Mawapres dan beberapa ajang keilmuan lainnya. Saking, prestisiusnya PKM ini, penulisan proposal PKM menjadi salah satu syarat dalam PPKMB – serangkaian acara penerimaan mahasiswa baru. Penyusunan proposal ini difasilitasi diwaktu Ospek departemen – kala itu.

Disinilah saya dan teman-teman satu tim saya mulai menyusun proposal PKM. Langkah pertama yang dilakukan adalah mulai menentukan kelompok PKM. Walaupun terkesan gampang, namun penentuan kelompok PKM ini merupakan hal yang cukup krusial. Terutama apabila didanai nantinya, mengingat pengerjaan yang memakan waktu hingga beberapa bulan tentu memerlukan kerjasama tim yang baik. Selanjutnya yang kami lakukan adalah pencarian dosen pembimbing dan penentuan judul PKM. Disini kami mengalami keraguan, pertama haruskah proposal ini kami kerjakan dengan serius atau hanya sekadar formalitas tugas saja? yang kedua apabila proposal kami ini didanai, bagaimana mengerjakannya? mengingat 3 orang kelompok kami masih baru saja menjejakkan kakinya di bangku perkuliahan. Hingga pada akhirnya kami putuskan untuk mengerjakannya dengan cukup serius. Dampaknya setelah konsultasi dengan dosen pembimbing, harus mengganti ide hingga lima kali dan menyusun dua proposal yang berbeda. Pada akhirnya diputuskan untuk membuat proposal yang sesuai dengan keilmuan dosen pembimbing.

Ide yang digunakan adalah “Dari limbah untuk limbah”, PKM kami memanfaatkan limbah cangkang kerang untuk digunakan sebagai adsorben limbah timbal. Singkat cerita proposal yang daijukan tadi didanai dan kami harus mulai mengerjakan proyek tersebut. Berbagai hal baru kami dapatkan sebagai mahasiswa baru mulai dari membuat perencanaan penelitian, survei ke tempat-tempat penyedia alat laboratorium (karena beberata alat yang harganya ‘tidak murah’ kami pecahkan), mengirim sampel ke Malang untuk foto SEM yang sekali foto biayanya ratusan ribu, dll. Walaupun pada akhirnya belum bisa maju ke PIMNAS.

Berhubung PKM ini merupakan ajang yang cukup prestisius bagi mahasiswa, maka seharusnya PKM ini bisa digunakan sebagai ajang berlomba-lomba dalam kebaikan. Sebagaimana yang Allah ta’ala firmankan dalam surat Al-Baqarah : 148 “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan…”

Advertisements